Trip Keong Curug Lawe dan Curug Benowo


Halo #SobatKeong ketemu lagi dengan saya, kali ini saya akan menceritakan #MingguNgeong edisi ke tiga dalam pencarian bidadari. Pencarian kali ini saya disebuah tempat wisata yang berada Kabupaten Semarang. Kenapa saya bisa ketempat ini? Dan apakah bidadari ada disini? Langsung saja yuk simak cerita selengkapnya.

Kenapa saya bisa ke tempat ini? karena saya dikasih tau sama seseorang kalo mau ketemu bidadari itu tempatnya ya di air terjun, merasa penasaran saya memutuskan untuk mencari sebuah air terjun, pilihan saya tertuju disebuah air terjun yang berada di Desa Kalisidi, Gunung Pati, Kabupaten Semarang. 

Cuaca pagi ini sangat cerah membuat semangat ini semakin menggebu-gebu untuk menjemput sang bidadari yang sudah lama pergi dan tidak pulang-pulang *loh bang toyib kali yang gak pulang-pulang*. Tanpa ba..bi..bu. pagi itu saya packing dan bersiap menuju kesebuah Desa Kalisidi desa yang mempunyai wisata alam yang tersemunyi yaitu Curug lawe dan Curug Benowo. 

Saya sebut wisata alam yang tersembunyi kenapa? karena untuk menuju sana tidak mudah saya harus bertanya kewarga-warga 10 kali biar tidak salah jalan, soalnya untuk menuju wisata ini sangat minim sekali papan informasi yang memberitahu akses menuju lokasi. Tapi tenang saja #SobatKeong setelah baca postingan saya jamin sobat bakal dapet pencerahan menuju jalan yang lurus *eh maksudnya menuju jalan sampai ke lokasi, soalnya jalanya berbelok-belok tidak cuma lurus, kalo lurus bisa nyempulung sawah* 

Untuk menuju kesana ada dua pilihan yaitu dengan transportasi umum dan kendaran pribadi, untuk kali ini saya memilih untuk membawa kendaraan pribadi *eh sombong amat, maksud saya kendaraan yang dipinjemin orang tua saya*. 

Akses Menuju Lokasi 

Untuk menuju lokasi wista ini saya kurang lebih perjalanan dari #GubukKeong sekitar satusetengah jam dengan rute dari Alun Alun Ungaran ke arah Mapagan menuju arah kecamatan Gunungpati (Jl. Wurjanto), setelah melewati gerbang “Selamat datang Kampus Di Sekaran Gunungpati” maju lagi sekitar 1,7 kilometer, dikiri jalan setelah kantor kecamatan Gunungpati ada papan penunjuk jalan menuju Ponpes Al-Mannan Sumur Gunung yang sisi kanan jalan ada Makam Darul Mukminin Siplaosan Sumurgunung belok kiri masuk kurang lebih tujuh kilometer dari jalan Wurjanto. Perlu diketahui medan menuju kelokasi sangat lah jauh melihat kondisi medan jalan yang berbatuan membuat saya untuk extra hati-hati. 

Biaya Masuk 

Wisatawan : Rp 4.000/orang 
Parkir roda dua : Rp 2.000/montor 
Parkir roda empat : Rp 5.000/mobil 

Setelah sampai menyelesaikan administrasi dan menitipkan montor saya menuju kesebuah rumah yang menjual makanan ringan, untuk mencari-cari informasi tempat wisata ini. Dari percakapan saya dengan penjual yang singkat, saya memutuskan segera memutuskan segera bergerak menuju lokasi dikarenakan jarak menuju curug lawe dan curuk benowo dari penitipan montor sangat jauh saya tidak mau memakan waktu lama disini. 

Dan perlu diketahui rumah yang menjual makanan itu tidak buka setiap waktu makanya bagi sobat keong kalo yang mau bekunjung kesini harus siap-siap bawa bekal makan dan minuman dari rumah. 

Perjalanan saya mulai melewati kebun cengkeh yang sangat luas kanan dan kiri hanya ada pohon cengkeh. Setelah melewati jalan berbatu saya dihadapkan dengan dua persimpangan, yang satu kekiri *bidadari lokal dan yang kekanan *bidadari internasional eh bukan, bukan maksud saya jalur jalan yang mana yang harus saya pilih untuk menuju curug lawe dan curug benowo. Untung aja waktu itu ada warga setempat yang sedang mencari rumput dan saya bertanya kepada bapak-bapak yang sedang cari rumput. 

Saya : Pak numpang tanya untuk menuju lokasi curug lawe dan benowo itu ambil kiri atau jalur yang kanan? Dengan ramah bapak itu menjawab pertanyaan saya. 

Bapak: yang benar ambil jalur yang kiri dek, tapi hati-hati soalnya jalurnya turunanya curam jadi jangan sampai kepleset, setelah sampai dibawah adek akan menemukan saluran irigasi. 

Saya : makasih pak atas informasinya, 
Bapak : la adek itu dari mana asalnya? Kok kesini sendirian? Pacarnya mana? 
Saya : saya dari semarang saja pak, iya ini pak lagi sendiri dan alhamdulilah saya belum punya pacar pak makanya sendirian. Saya kesini itu mau cari bidadari pak *sontak bapaknya bingung 
Bapak : Bidadari? Seumur-umur saya cari rumput disini tidak pernah nemuin bidadari dek. 
Saya : iya pak bidadari, belum pernah ya pak? Sama pak saya juga belum pernah makanya saya kesini sendirian, kalo saya udah punya bidadari saya kesini tidak sendiri. 
Bapak : *Sontak bapak pencari rumput itu mentertawakan saya* owalah bidadari yang adek maksud itu pacar to. 

Dalam hati seneng saya bisa melihat senyum bapak yang sedang mencari rumput seakan bisa sedikit menghibur bapak yang lelah mencari rumbut untuk kasih makan ternaknya. 

Saya : nah itu pak yang saya maksud dengan bidadari. Buakan kayak di negri dongen hhi. Kok bapak pagi-pagi gini suda mencari rumput pak 
Bapak : sukses ya nak mencari bidadarinya. iya ni nak, kalo tidak mencari rumput pagi-pagi gini saya tidak bisa mencari rumput buat makan ternak saya. soalnya habis ini saya harus kerja di kebun cengkeh yang ada disini 

Saya merasa malu kali ini, sudah banyak waktu saya sia-siakan tanpa menghasilkan apa-apa, saya. dan waktu yang saya buang sia-sia itu berdampak kepada kebahagiaan kedua orang tua saya. sekali lagi alam membuka fikiran saya. 

Saya : oow begitu ya pak makasih pak buat waktu luangnya. Amin pak makasih doanya, kemudian saya berpamitan dengan salaman dan mencium kedua tangan bapak tersebut ini bentuk wujud hormat saya terhadap orangtua . saya pamit dulu ya pak mau melanjutkan perjalanan. 

Bapak : iya adek, hati-hati dijalan. Sukses buat semua cita-citamu 
Saya : iya pak, dengan melemparkan senyum saya meninggalkan bapak pencari rumput tersebut. 

Dengan hati-hati saya menuruni jalan yang curam, saya ketemu dengan irigasi yang tidak terlalu besar tapi airnya jernih. Kanan irigasi menjulang tinggi tebing dan sisi kiri irigasi jurang. Jika saya tergesa-gesa matilah saya dijurang maka dari itu saya melangkahkan setapak demi setapak dengan berhati-hati sambil menikmati kicauan burung *burung yang berada dihutan lo.. bukan burung di dalam celana eh*. 

Sedang asik-asiknya jalan saya melihat sebuah jembatan kayu yang berada didinggir tebing bawahnya itu jurang sobat bayangkan coba kalo terjatuh gimana tu tidak ketemu deh jasadnya hhe. *eh tapi tenang tidak seserem itu sih dijamin aman kok kan soalnya kontruksinya itu dari baja, jadi tenang aja ya. 


Jembatan tua itu romantis lo, andai saja saya kesini sama bidadari bisa foto-foto kan lumayan buat koleksi foto prewedding hha *menghayal. Selain jembatan indah disini banyak pohon-pohon yang saya taksir udah ratusan tahun. Setelah selesai menikmati hayalan saya melanjutkan perjalanan. 

Kembali lagi saya dibuat binggung dengan dua pilihan persimpangan kekanan curug benowo jalanya tanjakan dan kekiri curuk lawe jalan menurun. Trus saya harus tanya ke siapa soal keberadaan bidadari orang sudah tidak ada orang siall. Tapi saya tidak ambil pusing untuk mengunjungi kedua curug tersebut dan saya ambil jalur menuju curug benowo terlebih dahulu karena melihat medanya terlihat lebih sulit. 

Trek menuju curug Benowo cukup sulit dan sempit, beberapa kali harus melewai medan jalur tanjakkan terjal, turunan yang licin, menyebrangi sungai mundar-mandir, melintasi jembatan bambu dan kayu yang labil, kami menemukan pertigaan kedua menuju curug lawe, dan setelah melewati jembatan kayu, menyebrangi sungai hingga akhirnya sebuah tanjakan yang terlihat tinggi sekali harus saya daki…whohaa…tapi semangat sepanjang perjalanan terus memompa semangat saya untu mencari bidadari. Hingga akhirnya tibalah saya di Curug pertama, yaitu Curug Benowo. 


Gilaaa, ini benar-benar luar biasa ini keindahan alam yang tersembunyi seakan pemandangan Curug Benowo ini menghapus semua kecapean yang saya rasakan, larut bersama indahnya air terjun. Setelah jalan satu setengah jam yang cukup melelahkan. Saya memutuskan istirahat cukup lama disini. Sebelum menikmati kesegaran percikan airterjun, saya melihat sekeliling *kok sepi dueng* ternyata saya sendirian oke mungkin bidadarinya lagi di Curug Lawe. Tidak ambil pusing saya menaruh tas buka baju buka celana dan buka *eh tidak, tidak buka baju aja deh trus menghampiri air terjun, menikmati segarnya air, main air. 


Setelah saya merasa lapar saya sudahi bermain air dan mencari tempat yang enak buat makan siang. Setelah menemukan tempat saya mengeluarkan kompor kecil yang biasa saya bawa jalan ke gunung, dan saya mulai memasak makan siang dan kopi sambil menunggu air mendidih saya nyanyi deh dengan lantang : 

masak-masak sendiri, 
makan-makan sendiri, 
jalan-jalan pun sendiri dan semua teriak *kasian deh loo*

sial eh ngomong-ngomong itu lirik lagu apa ya? Kayak pernah denger ya sudah lah lupakan saja lagian airnya sudah mendidih. 

Setelah air mendidih saya membuat kopi dan makan siang hmm begini paling indah makan siang dan ngopi di bawah air terjun mantap. Makan siang selesai semua, saya kembali bersiap-siap, masih ada satu curug lagi yang harus saya kunjungi. 

Kembali ke jalan semula, melalui tanjakan curam, menyebarangi sungai dan setelah jembatan kayu kami bertemu dengan pertigaan kecil dengan petunjuk arah Curug Lawe, jalan setapaknya cukup kecil namun curam dan saya terus mendaki hingga kami tiba di puncak bukitnya. Setelah dari puncak bukit saya kembali harus menuruni bukit, lebih waspada karena jalur yang sempit, rawan longsor dan licin. Perlahan tapi pasti dan saya berhasil melewati trek yang cukup ekstrim ini, hingga akhirnya terlihatlah Curug lawe dari kejauhan. 


Tak cukup kata saya mengungkapkannya, Curug Lawe ini luar biasa cakep, curugnya tinggi sekali, berbeda dengan curug Benowo yang berbentuk melebar, curug Lawe berbentuk air terjun tunggal yang tinggi sekali, sepertinya ini adalah salah satu air terjun tertinggi yang pernah kulihat. tingginya berapa? Sayang saya waktu itu tidak membawa meteran buat ngukur tingginya airterjun hha, pokoknya tinggi deh. Saya terus menghampiri Curug Lawe, karena saya harus menyebrang melewati persis didepan curug untuk menuju trek yang akan membawa kita ke jalur pulang. 



Seperti saat dicurug benowo, disini pun ternyata sepi tidak ada bidadari monyetnya bidadari pun tidak ada, ya sudah lah saya pun menyempatkan untuk sekedar istirahat, foto-foto air terjun, dan menikmati suara air terjun. 

Hari semakin siang menjelang sore, saya pun mempersiapkan diri untuk perjalanan pulang karena saya rasa bukan disini bidadari berada dan saya tetap pantang menyerah untuk mendapatkan bidadari entah dimana pun kaki ini siap untuk melangkah untuk menjemput bidadari. 

Jalur pulang saya yang berbeda membuat saya harus membaca arah jalan. Beruntung ternyata jalur pulang tidak terlalu berat, jalur pulang cenderung landai dengan mengikuti pinggir sungai , beberapa kali menyeberang sungai hingga akhirnya tiba di pertigaan pertama setelah jembatan bambu. Selanjutnya saya berjalan santai menuju pintu air kecil dan tanjakan terakhir yang mencekam. 

Dah akhirnya #MingguNgeong ini gagal mendapatkan bidadari di Curug Lawe dan Curug Benowo. *eh tapi, tapi tidak separah itu kali dari perjalanan ini saya banyak belajar dari bapak yang mengambil rumput trus mengetahui kalo di Kabupaten Semarang ini ada tempat wisata yang perlu di kelola oleh pemerintah supaya sarana dan prasarana memadahi, soalnya tempat wisata ini masih tergolong alami. 

Pesan saya kali ini buat #SobatKeong yang berkunjung tetap jaga kebersihan ya.. Supaya tempat wisata yang bagus ini tetep terjaga keasrianya, kebersihanya, dan keindahanya. sampai disini dulu sampai ketemu di #TripKeong selanjutnya :)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Thanks For Your Comment Here